Tentang Desa Kecilku

0
598
Tentang Desa Kecilku

Ingin aku goreskan tinta pena tentang desa kecil tempat dimana aku dulu dilahirkan. Karena hanya rangkaian kata yang bisa mengobati rinduku tentang desaku yang dulu. Walaupun desaku berada di pulau terpencil yang jauh dari kota bak anak tiri yang mandiri, namun aku tetap mencintai desaku yang kecil itu.

Aku dilahirkan di sebuah kepulauan terpencil yang saat ini dikenal masyarakat luas dengan nama Pulau Karimunjawa. Kepulauan Karimunjawa kini tak asing lagi di telinga umum akan keindahan yang dimiliki. Banyak orang yang berbondong-bondong datang ke Karimunjawa hanya untuk menikmati keindahan yang disuguhkan.

Sekarang berbeda dengan tempo dulu. Nama Karimunjawa sangat asing di telinga dan tak ada yang mengenalnya. Hal tersebut sangatlah maklum, karena lokasi Pulau Karimunjawa sangat jauh dan terpisah dari pusat kota kabupaten Jepara yang hampir tak tersentuh lembutnya tangan yang berkepentingan.

Dulu, cerita masa kecilku, desaku yang kini terkenal itu sepi, dikala malam hanya bersinarkan bintang dan cahaya redup dari lampu teplok di setiap rumah-rumah. Namun keceriaan tetap terpancar bahkan mengalahkan rembulan bersinar. Tetangga berkumpul bersama dipinggir jalan ngobrol sana sini tak ada ujungnya sambil mendengarkan radio hingga larut malam, dan terkadang tidur bersama dipinggir jalan.

Tidakkah itu bahaya?. Jawabannya adalah TIDAK. Karena waktu itu hanya ada sepeda onthel, itupun yang punya hanya beberapa orang saja.

Masih sangat teringat dalam benakku ketika masa kecilku dulu, jalan yang sering aku lewati masih berupa jalan setapak yang sekarang sudah menjadi jalan utama beraspal hitam. Awal dibangunnya jalan beraspal ketika itu sekitar tahun 1995 an.

[rpi]

Aku tak pernah tahu hingga sekarang bagaiman membawa alat berat itu sampai ke Karimunjawa, karena waktu itu belum ada kapal besar yang bisa membawa alat tersebut sampai ke Karimunjawa. memang, dulu sudah ada kapal transportasi ke Jepara  yang bernama Kapal Kota Ukir, namun hanya sebatas kapal penumpang bukan kapal barang, apalagi untuk membawa alat-alat berat. Sebelum Kapal kota ukir, sudah ada Kapal Tongkol yang terbuat dari kayu sebagai alat transportasi warga Karimunjawa ke Jepara. Sayang, Kapal tongkol mengalami kecelakaan di tengah laut saat menuju Jepara.

Karimunjawa dulu bagai katak dalam tempurung yang tak mengerti dunia luar, tak ada informasi yang didapatkan,  tak ada TV, tak ada sinyal seluler. Masih beruntung masih ada radio yang menolongnya walau di luar sana radio semakin ditinggalkan.

Kemajuan semakin terasa pada tahun 2000 an, entah siapa yang memberitahu tentang Karimunjawa, sehingga banyak yang berkunjung ke desaku yang terpencil dan tertinggal ini. Mungkinkah orang asing?. Mungkin juga, karena semenjak aku kecil sudah ada satu dua orang dari negeri lain yang singgah di desaku.

Tahun 2000 an, secercah harapan kegembiraan telah datang. Pembangunan pembangkit listrik mulai dibangun walau dari tenaga diesel (PLTD) yang sementara hanya beberapa desa saja. Hingga tahun 2010, cahaya terang dari pembangkit listrik sudah hampir dinikmati semua desa yang ada di kepulauan Karimunjawa. walaupun hanya menyala hingga tengah malam saja yang dimulai dari pukul 17.30 s/d 23.30, kami sangat bahagia.

Siapapun yang pernah berkunjung ke Karimunjawa sebelum tahun 2016 pasti mengetahui fakta ini. Listrik hanya setengah malam dan sinyal seluler hanya sebatas di kotanya saja. Ketika ada di desa sinyal seluler sulit didapat bahkan memang tidak ada koneksi.

Karimunjawa yang dulu sebagai daerah tertinggal, kini rupanya tidak lagi. Tahun 2016 merupakan tahun dimana Karimunjawa semakin maju, sinyal seluler yang lama ditunggu sudah tersedia, listrik yang dulu hanya setengah malam kini sudah 24 jam, jalan-jalan yang dulu bak sawah yang habis dibajak, kini sudah beraspal mulus tanpa lubang.

Karimunjawa telah maju, Karimunjawa kini tak tertinggal lagi. Tampaknya, justru desaku tercinta semakin menjerit kesakitan yang tak banyak merasakan. Alam yang dulunya rindang nan hijau memberikan kedamaian kesejukan, rupanya telah berubah menjadi indah dan megah dengan bangunan beton untuk mengeruk kekayaan dan masyarakat hanya sebagai penonton di rumahnya sendiri.

Para kapital berbondong-bondong datang dan dipersilahkan singgah. Karena masyrakat yang begitu ramah menyambut siapapun yang bertamu ke rumahnya. Tak pernah terpikirkan jika ternyata merenggutnya dari belakang dengan cara yang santun.

Karimunjawa kesakitan, mereka menebar dengan senyuman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.