Menikahi Saudara Sepupu Sendiri, Haram Kah?

0
103
Menikahi Saudara Sepupu Sendiri, Haram Kah?
source : ebaba.co.id

Delimun.com – Pernikahan adalah salah satu dari bentuk ibadah dalam ajaran Islam yang sangat dianjurkan untuk seluruh manusia. Karena pada dasarnya, dengan menikah, manusia bisa memperbanyak keturunan untuk terus melanjutkan peradaban dunia. Dan sejatinya, manusia diciptakan di bumi untuk berpasang-pasangan.

Masih dalam konteks menikah, terkadang untuk melakukan pernikahan tak semudah yang dibayangkan. Padahal, kita tahu bahwa menikah adalah adanya dua pasang pria dan wanita, wali atau penghulu, mas kawin, ijab kabul,dan pernikahan sah.

Begitu mudahnya menikah terkadang menjadi jalan terjal bagi sebagian orang. Selain karena syarat-syarat pribadi yang memberatkan, tapi juga karena hukum syariat yang harus di jalankan. Hukum menikah dalam agama islam secara tegas mengharamkan menikahi saudaranya sendiri. Hal ini disebutkan dalam Al Qur’an surat An Nisa ayat 23 yang berbunyi;

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. an-Nisa: 23).

Berdasarkan ayat diatas maka dapat disimpulkan bahwa islam dengan jelas melarang pernikahan sedarah. Pihak atau Status orang yang tidak boleh kita nikahi adalah;

  1. Diharamkan menikahi ibu kandungmu sendiri
  2. Diharamkan menikahi anak kandung
  3. Diharamkan menikahi saudara kandung (kakak atau adik)
  4. Diharamkan menikahi saudara-saudara ayahmu dan ibumu (paman atau bibi)
  5. Diharamkan menikahi anak-anak dari saudara kandung (keponakan)
  6. Diharamkan menikahi Ibu yang pernah menyusui kamu
  7. Diharamkan menikahi saudara sepersusuan (satu ASI)
  8. Diharamkan menikahi mertua
  9. Diharamkan menikahi anak tiri
  10. Diharamkan menikahi menantu
  11. Diharamkan menikahi dua perempuan bersaudara (kakak adik kandung dari perempuan yang mau dinikahi)

Dari keterangan diatas jelas bahwa tak ada keterangan diharamkan menikahi anak dari saudara ayah atau (anak dari paman atau bibi). Jika dilihat dari ayat-ayat serta penafsiran dari Tafsir Ibnu Katsir, bahwa saudara yang berasal dari anak dari saudara ayah atau ibu bukan termasuk pada Mahram. Untuk itu, secara garis keluarga sepupu bisa dinikahi atau sah dinikahi karena bukan termasuk garis Mahram.

Terkait masalah ini, saudara sepupu bukanlah mahram. Hal ini dipertegas Allah SWT dalam firmannya,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالاتِكَ.

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu.” (QS. Al-Ahzab: 50)

Jadi jelas, dalam ayat ini secara tegas menujukkan bolehnya menikahi saudara sepupu. Syaikh abdurrahman as-Sa’di mengatakan:

Allah berfirman sebagai bentuk kemurahan kepada Rasul-Nya, bahwa Allah menghalalkan bagi Rasul-Nya sesuatu yang Allah halalkan bagi orang beriman lainnya (yaitu menikahi sepupu), dimana Allah menyatakan, yang artinya:
“(halal untuk menikahi) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu.” ayat ini mencakup semua paman dan bibi dari bapak maupun ibu, yang dekat maupun yang jauh. (Taisir Karimir Rahman, hal. 669).

Menikah dengan sepupu juga sering dilakukan oleh kalangan keluarga ulama’ atau kyai. Dimana, banyak dari kalangan ulama’ menikahkan anaknya dengan anak saudaranya.

Menikah dengan saudara (dalam artian mahram) secara tegas tidak diperbolehkan dalam islam. Karena, hal ini terbukti di dunia kedokteran bahwa hubungan darah antara saudara sepupu bisa menciptakan efek negatif pada anak pasangan itu kelak.

Oleh karenanya, larangan menikahi sepupu yang terjadi di masyarakat adalah karena terlalu terbawa dengan umat sebelum islam datang. Sebagaimana disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya:

“Orang Nasrani meyakini bahwa antar-keluarga tidak boleh ada hubungan pernikahan, kecuali jika sudah melewati keturunan ketujuh atau lebih. Sedangkan orang yahudi membolehkan seorang lelaki menikahi keponakannya. Sementara syariat islam datang dengan membawa ajaran pertengahan. Tidak berlebih-lebihan, seperti orang nasrani yang melarang pernikahan di antara keluarga dan sebaliknya tidak terlalu lancang seperti orang yahudi, yang membolehkan seseorang menikahi keponakannya”. (Lihat Tafsir al-Qur’anul Adzim, 6/442).

wallahu a’lam bishawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here