Korupsi Dianggap Rejeki, Agama Dijadikan Topeng Belaka

Udah gak asing lagi negeri ini getol dengan kasus korupsi, mulai yang bawah hingga atas beramai-ramai seakan udah menjadi tradisi untuk melakukan korupsi. Gak heran memang, siapapun yang melihat harta karun di depan mata akan tergiur. Korupsi gak cuma terjadi di Indonesia aja, hampir semua negara di dunia banyak oknum-oknum yang melakukan korupsi.

Sepertinya korupsi udah mengakar sehingga sulit dimusnahkan, seperti pepatah “mati satu tumbuh seribu” yang akan terus tumbuh entah sampe kapan korupsi benar-benar hilang dari muka bumi. Mereka seakan tak berdosa saat melakukannya, bahkan korupsi dianggap dapet rejeki nomplok yang lumayan buat nambah buku tabungan.

Baca: Pantang Menyerah Walau Lelah Ditolak Google Adsense

Pelakunya bisa datang dari siapa aja, pejabat, pemuka agama, bahkan orang biasa pun gak mau ketinggalan. Mereka semua memanfaatkan ajian aji mumpung, masalah resiko urusan belakangan yang penting kaya duluan. Gak peduli sekitar kelaparan, gak peduli dengan dosa yang akan diterimanya, karena toh dosa gak kelihatan, kalo masih ada kesempatan entar bisa tobat. Kalo ketangkep, agama bisa dijadikan topeng untuk tameng agar harga dirinya masih terjaga, berjuta jurus dikeluarkan dengan alasan di dzolimi lah, di fitnah lah, dan alesan-alesan lain agar terhindar dari dinginnya kamar penjara.

Entahlah, apakah mereka bener-bener melakukannya ato gak, karena sekarang ini banyak ranjau dimana-mana. Apalagi yang punya posisi strategis, banyak ancaman yang datang dari segala arah jika gak berjalan hati-hati bisa terpeleset masuk bui.

Baca: 5 Hal Ini Nih Sering Banget Dilakukan Para Calon Pemimpin Saat Kampanye

Masyarakat hanya mengetahui dari media, mereka yang ketangkep karena korupsi selalu berkila kalo dirinya di fitnah, bahkan ada yang bersumpah kalo dirinya tak bersalah. Benarkah mereka di fitnah?, Mungkinkah pihak berwenag asal tangkep aja?. Jawabannya tanyakan pada rumput yang bergoyang, mungkin rumput-rumput itu tau jawabannya.

Benar seperti yang dikatakan seorang komedian Cak Lontong, “korupsi itu sebenernya gak ada dan tak pernah ada kalo gak ada koruptor”. Pernyataan tersebut sebetulnya klasik, dimana ada sebab disitu ada akibat. Guyonan konyol yang cerdas untuk menampar para koruptor. Meskipun begitu, koruptor tetaplah koruptor, sampe bibir berbusa melakukan sindiran-sindiran pedas, tetep aja hanyalah hembusan angin lalu.

Sering kali kita mendengar orang yang tersandung kasus korupsi di muka bumi ini yang menganggap dirinya tak bersalah. Ehmmm, maklum sih, karena mereka emang gak korupsi (katanya). Mereka cuma mengambil keuntungan, bahasa lainnya ganti uang keringat atas apa yang dikerjakan. Walopun mengambil keuntungan dengan cara mengurangi yang udah ditentukan, ato menaikkan anggaran setinggi-tingginya proposal yang diajukan.

Baca: 6 Slogan Lucu Saat Kampanye Yang Bikin Kamu Ketawa Terpingkal Pingkal

Ah entahlah, hukuman apa yang pas buat mereka?. Karena hukuman seberat apapun tak membuat mereka jerah. Sejatinya hukuman itu bukan semata-mata membuat jerah, kalo lebih pasnya memberikan pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan.

Semoga aja sih koruptor bisa dikurangi di Indonesia, biar pembangunan negeri gak terganggu dengan tikus-tikus kelaparan, dan hasilnya bisa dinikmati seluruh rakyat Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.