Yang dinamakan manusia itu adalah “kumpulnya badan jasmani dan badan rohani”. Kalau badan rohani telah keluar atau berpisah dari badan jasmani, maka namanya bukan manusia lagi, tapi berganti nama menjadi “jenazah atau mayit”. Manusia hidup dibekali dengan tiga kekuatan, yaitu;

  1. Syahwat : makan, minum, senang-senang, beranak, dsb.
  2. Ghodob : marah, mempertahankan diri, berkelahi, dll.
  3. Natiqoh : berfikir, angan-angan, menimbang-nimbang, dll.

Hewan sendiri tidak punya natiqoh, jadi hanya memilki dua kekuatan, yaitu; syahwat dan ghodob.

Bergeraknya syahwat dan ghodob hewan hanya berdasar oleh insting belaka. Namun, syahwat dan ghodob manusia digerakkan atau dikendalikan oleh natiqohnya.

Kalau kita gambarkan sebagai berikut;

syahwat dan ghodob hewan, selamanya tetap (tidak berubah-ubah), berbeda dengan syahwat dan ghodob manusia;

  • Kadang-kadang seimbang
  • Kadang-kadang kortsluiting (kekurangan)
  • Kadang-kadang terbakar (kelebihan)

Yang menyebabkan kejadian tersebut, tergantung pada natiqoh dan yang mempengaruhinya. Adapun yang mempengaruhi natiqoh itu macam-macam, seperti; rumah tangga, keluarga, tetangga, teman-teman, pendidikan, pergaulan, lingkungan, dll.

Jiwa atau Nafsu

Jiwa atau nafsu itu lain dari pada yang disebut nyawa, yang disebut nyawa adalah yang menyebabkan manusia atau hewan bisa hidup. Adapun yang disebut jiwa atau nafsu ialah kumpulnya tiga kekuatan:

  1. Syahwat
  2. Ghodob
  3. Natiqoh

Kalau natiqoh bisa menang atau dapat menguasai syahwat dan ghodobnya, manusia akan bisa adil yang berarti baik. Namun, kalau natiqoh kalah dengan ghodobnya, manusia akan tenggelam dalam kemarahan, berkelahi, sikut sana sikut sini, garuk sana garuk sini, dll yang berakibat tidak baik.

Adapun sifat-sifat dari tiga kekuatan tersebut diatas sbb:

  1. Syahwat : Sifatnya malas, merampas, rakus, tidak tahu malu, pengecut, mementingkan diri sendiri, kikir, tidak ambil pusing, dll.
  2. Ghodob : Sifatnya sombong, suka di puji-puji, tidak mau kalah, cari enaknya sendiri, menindas, tidak kenal kasihan, tidak pakai perhitungan, dll.
  3. Natiqoh : Sifatnya suka menerima ilmu, suka menerima nasehat, suka kepada kebijaksanaan, suka kepada keadilan, suka kepada kebenaran, suka kepada kebajikan, mengerti kepada jalannya sebab dan akibat, dapat membedakan baik dan buruk, dll. Maka dengan adanya atiqoh inilah terletak perbedaan manusia dan hewan.

Bakti

Tiap-tiap makhluk ada baktinya sendiri-sendiri terhadap khaliq (yang Menciptakan), dan kepada sesama hidup, misalnya:

  • Pohon-pohonan berbakti dengan bunganya, buahnya, daunnya, dll.
  • Hewan berbakti dengan keindahan suaranya, keindahan bulunya, dagingnya, kulitnya, tulangnya, dll.
  • Manusia pun punya baktinya sendiri. Adapun baktinya manusia itu diturunkan dan diajar oleh nabi-nabinya Allah, beserta kitab-kitab sucinya.

Beberapa Kesan

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk dan sifat yang sebaik-baiknya. (QS. At-Tin: 4)

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنسَانِ مِن طِينٍ (٧) ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَالَةٍ مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ(٨)
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. (7) Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. (8) (QS. As-Sajda: 7-8)

يُرِيدُ اللَّـهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا (٢٨)
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (28) (QS. An-Nisa: 28)

وَيَدْعُ الْإِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنسَانُ عَجُولًا (١١)
Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (11) (QS. Al-Isra: 11)

وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَن يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ إِلَّا أَن تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلًا (٥٥)
Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata. (55) (QS. Al-Kahf: 55)

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (٢٠) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا ﴿٢١﴾ إِلَّا الْمُصَلِّينَ (٢٢)
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (19) Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, (20) dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, (21) kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, (22) (QS. Al-Ma’arij: 19-22)

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (56) (QS. Adh-Dhariyat: 56)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.