Sebagaimana kita ketahui, Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tahun 571 M. Diwaktu masih kanak-kanak, beliau menjadi pengembala kambing, dan setelah dewasa menjadi buruh, dan sesudah itu menjadi pedagang. maka Berdaganglah beliau mulai dari Mekkah ke Utara sampai negeri Syam (Asia-Minor). Di Syam beliau bertemu dengan pedagang-pedagang dari Eropa Barat, Eropa Timur, Turki, Tiongkong, Persia, India, dll.

Setelah beliau berusia 25 tahun, beliau menikah dengan Siti Khadijah di Mekkah. Setelah menikah dengan Siti Khadijah, belia berhenti merantau dan beralih bercocok tanam serta memelihara ternak. Sekitar umur 30 tahun, urusan rumah tangganya diserahkan kepada Siti Khadijah, sedangkan beliau sendiri kebanyakan keluar dari kota Mekkah menuju gunung-gunung dan gua-gua, yang termashur adalah gua di gunung hira atau yang lebih dikenal gua hira.

Beberapa kejadian sebelum Nabi Muhammad dilahirkan di bumi seperti

Monopoli

Bukan dalam perdagangan saja monopoli ini dijalankan, akan tetapi dalam segala lapangan oleh orang-orang besar dan orang-orang yang berkuasa. Ini adalah akibat dari adanya klassentelsel. Pada waktu itu manusia dibagi menjadi lima bagian (kasta) :

  • Kasta Brahmana
  • Kasta Satria
  • Kasta Wesia
  • Kasta Sudra
  • Kasta Paria
  1. Kasta Brahmana

Kasta Brahmana mengaku dirinya wakil Tuhan atau Tuhan yang berbentuk manusia, mereka ini memegang monopoli atas ibadah manusia kepada Tuhan, jika manusia akan beribadah kepada Tuhan, harus dilakukan melalui Brahmana. Jika tidak melalui Brahmana, ibadahnya tidak akan diterima oleh Tuhan, sebab menurut anggapannya, Brahmana adalah badan perantara dari Tuhan. Siapa yang melanggar akan dihukum.

  1. Kasta Satria

Kasta Satria mengaku dirinya wakil Tuhan juga yang diberi tugas memerintah dan mengatur manusia di dunia, yang tidak menurut akan perintahnya akan dihukum.

Kasta Satria ini terdiri dari raja dan keluarganya. Anggapannya;

  • L’TAT C’EST MOI atau De Staat ben ik

(artinya: Negara, nusa, bangsa, manusia adalah saya sendiri).

Anggapan ini masih diucapkan hingga abad 18 oleh Lodewijk XIV, seorang raja Prancis.

  • DE KONING BIJ DE GRATIE GODS atau KING BY THE GRACE OF GOD

(artinya: Raja atas karunia Tuhan).

Hingga kini anggapan ini masih berlaku. Dengan pendirian ini maka raja mempunyai kekuasaan penuh atas rakyat, sehingga pemerintah pada waktu itu merupakan “absolute monarchi (kekuasaan raja tidak terbatas)”.

Dengan adanya dua kelas manusia yang sama-sama mempunyai anggapan sebagai wakil Tuhan dan sama-sama merasa berhak menguasai umat manusia, maka timbullah pertentangan antara Brahmana dan Satria (klassenstrij). Ramailah pertempuran antara mereka. Seringkali kasta Brahmana kalah, akan tetapi tidak jarang pula kasta Satria terpukul. Meski bagaimana pun hasilnya, rakyat jelata jugalah yang menjadi korban. Lama-lama keduanya sama-sama menderita kemiskinan dan kerusakan, namun permusuhan tak kunjung selesai. Akhirnya mereka berkompromi dan mendakan perundingan pembagian wilayah kekuasaan dengan rumus;

QUID EST CAESARIS CAESARO, QUID EST DEI DEO (Hak raja serahkan kepada raja, hak Tuhan serahkan kepada Tuhan)”.

Mulai saat itu timbul pemisahan antara pemerintahan dan agama. Jadi dalam Negara ada dua kekuasaan yaitu Kasta Brahmana dan Kasta Satria, dua kasta inilah yang berkuasa. Dengan perubahan ini orang-orang kaya, saudagar-saudagar kaum majikan (golongan borjuis) tidak senang hatinya, lalu mendirikan blok sendiri dengan kasta Wesia.

  1. Kasta Wesias (Waisya)

Kasta Wesias ini mengajak rakyat jelata memberontak untuk melawan kasta Brahmana dan Satria. Semboyannya adalah;

  • LAISSER ALLER, LAISSER PASSER

(Jangan biarkan orang lain mencampuri urusan kita).

  • LA LIBERTE, L’EQUALITE, FRATERNITE

Vrijheld, Gelijkheid en Broederschap

(Kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan).

Seperti halnya timbul dalam revolusi Prancis 1792, pemberontakan borjuis melawan raja dan kaum agama disana.

Setelah kasta ini menang dalam perjuangannya, mereka mengaku keturunan Dewa Hermes (Dewa Perniagaan) dan dewa-dewa yang lain. Semua umat manusia yang ingin mencari makan, nafkah, rejeki, harus lewat Kasta Wesias ini. Siapapun yang melanggar akan mendapat hukuman.

Mereka yang mula-mula diajak memberontak ditinggalkan begitu saja, mereka tetap melarat, miskin dan sengsara. Karena tindakan ini, otomatis mereka terpisah dari kasta pertama hingga kasta ketiga sehingga menjadi kasta Sudra.

  1. Kasta Sudra

Seringkali kasta sudra mengadakan perlawanan terhadap kasta Brahmana, Satria, dan Wesias, namun nasibnya selalu malang.

  1. Kalau kalah, mereka dijadikan tawanan perang dan budak belian (slaven); hak manusia hilang dari mereka, mereka disamakan dengan kambing, dapat dijual belikan, disuruh bekerja mati-matian, hasil jerih payah mereka sepenuhnya menjadi hak milik sang majikan (budak tidak punya hak sedikitpun, bahkan nyawanya halal dibunuh).
  2. Kalau mereka menang, maka oleh lawannya diadakan genjatan senjata (cease fire), pemberhentian permusuhan (cease of hostilities), perjanjian tetap di tempat (stand fast), dll untuk mengadakan perundingan.

Sambil mengumpulkan tenaganya yang kocar kacir (consolideren) dan memperkuat diri, ketiga golongan itu mengadakan perjanjian-perjanjian yang biasanya tidak ditepati dan memang tidak ada maksud untuk menepatinya, sekedar untuk memadamkan kemarahan kaum Sudra. Mereka sendiri tak percaya akan adanya perdamaian dengan perundingan. Pendirian mereka adalah:

  • SI VIS PACEM PARA BELLUM

Barang siapa menghendaki perdamaian, harus selalau siap untuk berperang.

  • DEVIDE ET IMPERA

Memecah belah dan menguasai.

Karena banyaknya tawanan perang, maka timbullah kasta Paria.

  1. Kasta Paria

Kasta Paria ini tidak punya hak:

  1. Mendengarkan ajaran agama (membaca kitab suci).
  2. Mendekati raja/brahmana.
  3. Menentukan hidupnya sendiri.
  4. Dll.

Mereka boleh dijual dan diperdagangkan serta boleh dibunuh tanpa ada urusan. Akibat dari adanya klassenstelsel ini, timbullah kelas Senstrij yang tak berkeputusan (dan menjadi bencana yang dahsyat). Perampokan merajalela, saling bunuh, kerusakan dimana-mana, krisis akhlak, perang yang tiada ujungnya.

Jika tidak ada belas kasihan dari Allah Yang Maha Kuasa terhadap makhluknya, maka dunia ini pasti akan hancur lebur pada waktunya.

Baca Juga: Jati Diri Manusia Sesungguhnya Yang Perlu Kamu Tahu

Menjadi Perhatian Nabi Muhammad

Melihat kejadian-kejadian tersebut, Nabi Muhammad SAW sangat gelisah hatinya. Beliau berfikir dan mencari jalan keluar guna melepaskan umat manusia dari belenggu yang mencekik leher mereka dengan adanya klassenstrij yang makin mengganas, dan monopoli makin hebat.

Setelah Nabi Muhammad kuat, semua belenggu-belenggu itu dihancurkan. Nabi Muhammad membentuk masyarakat baru dengan dasar

“Manusia itu ssma, yang lebih mulai dihadapan Allah adalah yang banyak berbakti/takwanya”.

Polygami

Sebelum Nabi Muhammad lahir, sudah ada adat istiadat/tradisi/aturan-aturan/paham-paham tentang polygami. Masalah pernikahan pada waktu itu dapat dibagi menjadi delapan, yaitu;

  1. Non-gami

Paham yang menentukan laki-laki tidak boleh beristri seumur hidup.

  1. Monogami

Paham yang menentukan seorang lelaki hanya boleh beristri satu.

  1. Bigami

Paham yang menentukan seorang lelaki boleh beristri dua.

  1. Polygami

Paham yang menentukan seorang lelaku boleh beristri sabanyak mungkin tanpa batas.

  1. Non-andri

Paham yang menentukan perempuan tidak boleh bersuamo seumur hidup.

  1. Monoandri

Paham yang menentukan seorang wanita hanya boleh bersuami satu.

  1. Biandri

Paham yang menentukan seorang wanita boleh bersuami dua.

  1. Polyandri

Paham yang menentukan seorang wanita boleh bersuami sebanyak mungkin tanpa batas.

Soal polygami tersebut diatas banyak sangkut pautnya dengan derajat wanita. Sebelum Nabi Muhammad lahir, banyak anggapan terhadap kaum wanita, beberapa anggapan tentang wanita adalah sebagai berikut;

  • Wanita itu hanya ½ manusia.
  • Wanita itu surga nunut, neraka katut (surga hanya menumpang suaminya dan neraka tersangkut suaminya).
  • Wanita itu hanya pabrik anak.
  • Wanita itu kalau suaminya mati, harus turut bela mati juga seperti dibakar, dll.
  • Wanita dijadikan wadal; dibunuh, dimasukkan kedalam kali-kali besar, dll.

Banyaklah orang-orang pada waktu itu, kalau istrinya melahirkan anak perempuan, anak tersebut dikubur hidup-hidup karena malu punya anak perempuan. Dengan adannya paham/aturan/adat terhadap kaum wanita semacam itu, maka kaum wanita menjadi kurban dan mengalami penderitaan dan penghinaan yang sangat hebat. Maka terjadilah kekacauan/fitnah di bumi dan kerusakan yang semakin meluas.

Baca Juga: Lafadz Ijab Qabul Pernikahan Dalam Islam Baik Bahasa Indonesia Maupun Bahasa Arab

Islam Datang Mengatur

Sesudah islam datang, hal-hal yang menyebabkan kerusakan dan kehancuran seperti diatas, dirombak dan diganti yang baru, seperti;

Perkawinan

  1. Barang siapa sudah waktunya menikah, supaya lekas menikah, kalau belum siap supaya puasa.
  2. Seorang wanita hanya boleh bersuami seorang lelaki saja.
  3. Kalau seroang lelaki boleh menikah sampai empat wanita sebagaimana diatur dalam QS. An-Nisa: 3.

Derajat kaum wanita

  1. Wanita itu 100% manusia (sepenuhnya manusia).
  2. Wanita itu surga dan nerakanya tergantung dari amalnya sendiri.
  3. Kalau suaminya mati, cukup dengan belasungkawa saja, tidak boleh dikubur/dibakar.
  4. Menggugurkan kandungan dan mengubur orang hidup-hidup dilarang.

Begitulah fakta singkat perjalanan islam, semoga menjadi pelajaran berharga dalam kehidupan di bumi untuk menghadap kepada Tuhan kelak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.