image source: pixabay.com

Islam lahir di negeri Arab pada abad ke-6 Masehi, pada waktu itu yang berkuasa di Barat Kerajaan Roma dan di Timur Kerajaan Persia.

Roma

Pada tahun 330 M, Kaisar Constantine (dari Roma) mendirikan Ibu Kota baru dari kekuasaannya di tepi selat Bosporus (jalan masuk dari laut Tengah ke laut Hitam) dan diberi nama kota Konstantinopel.

Setelah Kaisar Constantine meninggal dunia diganti dengan Kaisar Theodosius pada tahun 395. Sebelum Kaisar Theodosius meninggal dunia, kerajaan Roma terbagi menjadi dua yaitu

  1. Bagian Timur untuk putranya Arkadius dengan Ibu Kotanya di Konstantinopel
  2. Bagian Bara untuk putranya Honorius dengan Ibu Kotanya di Roma

Dengan terbaginya dua kekuasaan ini, Roma kian hari bertambah lemah dan akhirnya jatuh. Faktor yang mengakibatkan runtuhnya Kerajaan Roma Barat diantaranya: kemewahan-kemewahan hidup masyarakat negeri itu, terlebih lagi para pemimpinnya.

  1. Pertanian/perusahaan/kerajinan diserahkan kepada orang-orang tawanan perang.
  2. Pertahanan diserahkan kepada tentara bayaran: Soldat (Sol : Lima, Dat : gajian). Jadi bayarannya tiap lima hari sekali.

Pada abad ke-5, kerajaan Roma Timur diduduki oleh kaisar-kaisar lemah, keadaan di dalam negeri kacau, karena adanya perpecahan-perpecahan dan pemberontakan. Daerah utara diserang oleh bangsa Slavia dan daerah timur diserang oleh bangsa-bangsa Persia. Keadaan yang semakin memburuk ini dapat dikembalikan kembali menjadi normal pada masanya Kaisar Yustatianus (527-565).

Setelah Kaisar Yustatianus dapat meredam kerusuhan/pemberontakan dalam negeri, beliau mengirimkan armadanya:

  1. Ke Barat, pada tahun 534 M untuk merebut daerah-daerah di Afrika Utara (sesudah itu ke Italia dan Spanyol pada tahun 554-555 M). disana beliau memperoleh kemenangan.
  2. Ke Timur, pada tahun 528 M untuk bertempur melawan tentara Persia, dan tentara Persia kalah. Pada tahun 531 M tentara Persia kembali menyerang ke daerah Byzantium (Konstantinopel), dan akhirnya Kaisar Yustatianus menganjurkan damai dan sanggup membayar upeti kepada Kisra Persia yaitu Kisra Khosrau I yang bergelar ANU-SIRWAN (531-570 M).

Pada tahun 540 M, tentara Persia  merebut Armenia, Syria dan Antiochia dari taklukan jajahan Kaisar Yustatianus. Akan tetapi tentara Persia hanya mampu menaklukkan Armenia saja. Pada tahun 544 M tentara Persia menyerbu Kota Edessa (sebelah timur sungai Ephurat), tetapi tidak berhasil, dan peperangan diakhiri dengan suatu perjanjian damai antara Roma dan Persia dalam kurun waktu 10 tahun.

Hasil dari pekerjaan Kaisar Yustitianus yang besar ada dua:

  1. Dapat menaklukkan negeri-negeri di kanan-kirinya lautan tengah, mulai dari Gibraltar (Jabal Tatrik) sampai ke selat Bosporus (termasuk Spanyol, Italia, Yunani), dan mulai dari Al Jazirah sampai ke Armenia (termasuk Mesir, Arab, Palestina, Syria).
  2. Buku Undang-Undang sebanyak tujuh jilid dan dibagi atas lima puluh bagian, (buku tersebut hingga kini masih dipakai menjadi dasar ilmu kehakiman pada perguruan tinggi di Eropa).

Pada tahun 565 M, Kaisar Yustitianus wafat, dan digantikan oleh kaisar-kaisar yang kemudian timbul pemberontakan karena kedoliman kaisar-kaisar penggantinya. Pada tahun 610-540 M yang menjadi kaisar adalah Heraklius (Hiraqlu), yaitu kaisar yang pernah membicarakan tentang kebesaran Nabi Muhammad dengan Abu Sufian dari Mekkah, tatkala ia berdagang ke Syam (Syria).

Baca Juga : Jati Diri Manusia Sesungguhnya Yang Perlu Kamu Tahu

Waktu Heraklius menjadi kaisar, pemberontakan dapat diredam, lalu beliau mengadakan serangan pembalasan kepada Persia dan akhirnya diadakan perjanjian perdamaian antara dua kaisar  tersebut (Romawi-Persia).

Persia

Iskandar Zulkarnain (Alexander de Grote), raja dari Makedonia (Yunani Utara) pada tahun 334 sebelum tarikh Masehi, telah mengadakan suatu expeditie raksasa, dengan membawa tentaranya kira-kira 30.000 prajurit berjalan kaki, dan 5.000 tentara berkuda.

Yang dimaksud dalam perjalanannya ialah akan mempersatukan Barat dan Timur (Makedonia-Yunani dan Persia) menjadi satu kerajaan besar dibawah pimpinan dia. Maka bergeraklah tentara yang besar ini ke Selatan melalui selat Dardanella dan menaklukkan Turki, Syria, Palestina, Mesir (di Mesir beliau mendirikan kota di Pantai Utara dan diberi nama Iskandariah).

Dari Mesir beliau melanjutkan perjalanannya ke Timur menyeberang sungai Ephurat dan Tigris, dan sampailah di kota Arbela (sebelah Timur sungai Tigris). Di Arbela bertemulah tentara Iskandar Dzulkarnain dengan tentara Persia yang dipimpin oleh Kaisar Darius. Pertempuran sengit terjadi antara tentara dua kerajaan tersebut. Akhirnya tentara Darius yang ratusan ribu itu dapat dikalahkan oleh pasukan tentara Iskandar Dzulkarnain yang hanya puluhan ribu saja (karena pasukan Persia kalah siasat dan strateginya). Kaisar Darius lari ke Utara pegunungan tinggi, tetapi nasibnya malang, beliau dibunuh oleh musuh di dalam selimut (yang bernama Bessus).

Baca Juga : Bacaan Sholawat Nariyah Lengkap Dengan Teks Arab Maupun Teks Indonesia

Dari sana Iskandar Dzulkarnain melanjutkan perburuannya ke Utara melalui daerah-daerah pegunungan dan daerah yang berbahaya dan sulit, tetapi ditempuh juga dan akhirnya dapat kemenangan dan dapat berkuasa pada kerajaan Persia. Setelah beberapa lama tinggal di Persia, beliau melanjutkan penyerbuannya ke India sampai ke dataran sungai Sindu (Indus). Maksud beliau akan menyerbu ke Timur lagi sampai dataran sungai Gangga, tetapi tentaranya sudah jemu perang dan payah dalam perjalanan yang sudah bertahun-tahun itu, dan semua ingin pulang ke Macedonia. Maka kembalilah Iskandar Dzulkarnain dengan bala tentaranya ke Barat, ada yang melalui lautan dan yang banyak terbanyak melalui daratan menuju Irak.

Dalam waktu sepuluh tahun, Iskandar Dzulkarnain mampu membuat kerajaan yang besar antara Barat dan Timur. Setelah beliau kembali ke ibu kota kerajaan Persia dahulu (kota Susan di tepi sungai Tigris) diadakan perayaan besar-besaran dan perkawinan antara orang-orang Makedonia dengan putri-putri Persia, Baginda sendiri menikahi putri Satira putri mendiang Darius.

Ibu kota kerajaan lalu dipindahkan ke Babylon (di tepi sungai Ephurat). Maka berangkatlah baginda dengan semua stafnya ke ibu kota yang baru itu, tidak berapa lama disana, sang Kaisar Iskandar Dzulkarnain wafat dalam usia 33 tahun. Sepeninggal beliau, terjadilah perebutan kekuasaan dari raja-raja yang telah ditaklukkannya dahulu dan kembali berdiri sendiri-sendiri seperti semula (orang-orang Makedonia kembali ke negerinya).

Persia sendiri terbagi menjadi beberapa kerajaan kecil hingga beberapa tahun lamanya. Baru dibawah kekuasaan raja-raja keturunan Sasania, kerajaan Persia dapat dipersatukan kembali menjadi kerajaan yang besar. Dibawah kekuasannya, Persia dapat mengembangkan lagi sayapnya ke Barat sampai ke batas Syria, sehingga bikin gentar kaisar Yustitianus dari Byzantium. Diantara raja-raja Persia yang termasyhur adalah

  1. Kisra Khosru I Anu-Syirwan, yang memerintah antara tahun 531-570 M.
  2. Kisra Khosru II, memerintah Persia pad tahun 590-628 M, adalah saingan besar dari Kaisar Byzantium (Heraclius).
  3. Dan akhirnya berganti kepada Kaisar Jazdajid III sampai kepada keruntuhannya, dan berganti daulat kepada orang-orang dari Arab.

Pasukan Gajah (Fiel)

Raja Abrahah dari habsyi (Abessinia) pada tahun 570 M berangkat menuju Mekkah dengan maksud;

  1. Akan menaklukkan negeri Mekkah.
  2. Akan memindahkan Ka’bah ke negerinya.

Dan dibawahnya pasukan yang besar, ada yang berkalan kaki, ada yang berkendaraan gajah (fiel) da nada yang berkuda. Raja Abrahah sendiri naik gajah besar. Mekkah diserbu oleh pasukan gajah dari selatan, kira-kira 15 mil diluar kota. Raja Abrahah memerintahkan kepada pasukannya afa beristirahat/berkemah diluar kota, untuk mengatur kekuatan dan penyerbuan. Diutuslah sebua misi yang diketuai oleh Hanatoh untuk menyampaikan surat ultimatum kepada pembesar-pembesar Mekkah yang isinya;

  1. Orang-orang Mekkah harus menyerah, kalau tidak mau akan digempur dengan segala kekuatan angkatan perangnya.
  2. Ka’bah akan dihancurkan, dan orang-orang naik haji supaya pindah ke Habsyi.

Misi Hanatoh di Mekkah ditemui oleh pembesar-pembesar-pembesar Quraisy yang diketuai oleh Abdul Muttalib (kakek Nabi Muhammad). Dan surat itu dijawab oleh Abdul Muttalib sebagai berikut:

  1. Soal perang, kami tidak ada kehendak untuk berperang kepada raja Abrahah.
  2. Soal Ka’bah sudah ada yang menjaganya sendiri yaitu Tuhannya Ka’bah. Kami serahkan saja kepada-Nya.

Setelah jawaban Abdul Muttalib disampaikan kepadanya, lal ia marah dan memerintahkan kepada tentaranya untuk menyerbu Mekkah. Akan tetapi sebelum tentara itu berangkat mengempur, se konyong-konyong diserbu oleh pasukan burung ababil dan terjangkitlah wabah penyakit cacar dan kolera yang mengakibatkan tentara Abrahah banyak yang mati dan kocar-kacir.

Baca Juga : Lafadz Ijab Qabul Pernikahan Dalam Islam Baik Bahasa Indonesia Maupun Bahasa Arab

Akhirnya tentara itu lari tunggang langgang, perlengkapannya serta barang-barang rampasan semuanya ditinngalkan di Mekkah. Sementara Abrahah sendiri mati ditengah jalan. Dengan keadaan demikian, Mekkah terhindar dari serbuan pasukan gajah yang dipimpin oleh raja Abarahah dari Habsyi, dan Ka’bah tetap berdiri. Sesudah kejadian yang besar ini, Nabi Muhammad dilahirkan di Mekkah pada tanggal 12 Rabi’ulawal tahun Fiel (Gajah), bertepatan dengan 20 April 571 M.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.