credit : nasional.tempo.co

Sederet kasus yang pernah terjadi di tanah air tak semuanya dapat dituntaskan. Beberapa diantaranya masih menyimpan teka teki yang masih belum terjawab hingga kini. Sejumlah kasus yang pernah terjadi di Indonesia meliputi pelanggaran hak asasi manusia, kasus pidana maupun kriminal, hingga intimidasi.

Dosa masa lalu Indonesia selalu digaungkan untuk mendapat keadilan dan kejelasan hukum. Nyatanya, hingga kini, misteri kasus-kasus tersebut belum mendapat kepastian hukumnya.

Berikut ini, delimun merangkum dosa besar Indonesia yang belum termaafkan;

1. Kasus Penembakan Misterius

credit : www.apakabarsidimpuan.com

Penembakan misterius atau sering disingkat Petrus alias operasi clurit adalah operasi rahasia yang digelar mantan Presiden Soeharto dengan dalih mengatasi tingkat kejahatan yang begitu tinggi. Tahun 1983, 532 orang tewas, 367 diantaranya tewas akibat luka tembak. Kemudian pada tahun 1984, tercatat 107 orang tewas, di an¬¬taranya 15 orang tewas ditembak. Setahun kemudian, pada 1985, tercatat 74 orang tewas, 28 di an¬taranya tewas ditembak. Total ada 713 nyawa melayang dalam operasi petrus sejak 1983 hingga 1985. Namun, pelakunya tak pernah diketahui, tak pernah tertangkap, dan tak pernah diadili hingga kini.

2. Kasus pembunuhan Marsinah

Kasus pembunuhan Marsinah
credit : kumparan.com

Marsinah adalah seorang buruh pabrik PT Catur Putra Surya (CPS) yang sekaligus sebagai aktivis HAM. Hal tersebut bermula ketika karyawan pabrik menuntut kenaikan upah agar sesuai dengan himbauan Gubernur Jawa Timur. Usai kesepakatan terjadi, 13 perwakilan buruh yang dianggap sebagai dalangnya dipaksa mengundurkan diri. Kemudian mereka dibawa ke Kodim Sidoarjo. Mendapati kabar tersebut, Marsinah mengunjungi rekan-rekannya. Sejak kepergiannya tersebut, Marsinah tak diketahui kabarnya. Beberapa hari kemudian, ia ditemukan tewas pada 8 Mei 1993 di gubuk dekat hutan di Dusun Jegong, Wilangan, Nganjuk. Hasil otopsi menunjukkan bahwa Marsinah mendapat penganiayaan berat. Namun demikian, diduga terdapat rekayasa dalam prosesnya. Yudi Susanto, sang pemilik pabrik, beserta 8 orang petinggi pabrik dinyatakan sebagai tersangka. Mereka mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi. Mereka pun dinyatakan bebas. Mahkamah Agung Republik Indonesia pun menyatakan bebas murni pada proses tingkat kasasi.

3. Kasus Pemerkosaan Sum Kuning

credit : tirto.id

Kasus pemerkosaan di Indonesia hampir tak pernah ada habisnya. Sampai-sampai presiden mengeluarkan hukuman kebiri bagi para pelaku pemerkosa. Tahun 1970 silam, tepatnya pada 21 September 1970 menjadi saksi sejarah penculikan gadis berusia 18 tahun yang bernama Sumaridjem alias Sum Kuning oleh sekelompok pria saat tengah menanti bus sehabis berdagang telur di Jalan Yogyakarta-Patuk. Selanjutnya ia dibawa ke sebuah rumah di Klaten dan diperkosa secara bergilir hingga tak sadarkan diri. Setelah memerkosa, gerombolan pemuda itu membuang Sumaridjem yang tak berdaya di tepi Jalan Wates-Purworejo, daerah Gamping. Saat melapor pada polisi, Sum justru tak mendapat keadilan. Ia justru ditangkap atas tuduhan membuat laporan palsu. Bahkan Jendral Pur Hoegeng yang merupakan mantan Kapolri yang berusaha mengungkap kasus ini malah dipensiunkan. Banyak orang menduga pensiunnya Hoegeng adalah agar kasus ini segera ditutup. Kasus pemerkosaan Sum oleh sekelompok pemuda diduga anak para pejabat. Hingga kini, kasus ini belum terungkap. Para penculik dan pemerkosa melenggang bebas.

4. Kasus 13 Aktivis Hilang Misterius

credit : www.oratoretkehidupan.id

Tahun 1998 adalah masa kelam bangsa Indonesia, kerusuhan terjadi di berbagai wilayah tanah air, hingga hilangnya 13 orang aktivis yang diculik paksa oleh militer dan tidak ada yang tahu dimana keberadaannya hingga kini. Sebenarnya ada 24 orang yang diculik, tapi 10 orang diantaranya bebas, dan 1 orang lainnya ditemukan tewas tiga hari kemudian di Magetan dengan luka tembak di kepala. Ke-13 aktivis itu yakni Sonny, Yanni Afri, Hendtra Hambali, Dedy Umar, Ismail, Suyat, Ucok Munandar Siahaan, Noval Alkatiri, Petrus Bima Anugerah, Herman Hendrawan, Yadin Muhidin, Abdun Nasse dan Widji Thukul. Mereka menjadi korban penghilangan paksa oleh rezim Soeharto menjelang keruntuhannya. Pada tahun 2000 keluarga dan kalangan penyintas melaporkan nama-nama sanak keluarga yang diculik kepada Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Sebanyak 11 anggota Kopassus telah diadili secara militer untuk kasus ini. Meski proses peradilan telah usai. Namun, nasib 13 aktivis tersebut tetap tidak diketahui.

5. Kasus pembunuhan Munir

credit : nasional.tempo.co

Pemilik nama lengkap Munir Said Thalib tewas dalam penerbangan menunju Belanda pada 7 September 2004 yang saat itu ia berumur 38 tahun. Munir pergi ke Belanda untuk melanjutkan studi S2 di Universitas Utrecht, Belanda. Namun, dalam penerbangan, ia meninggal dunia dengan kondisi ditemukan racun arsenik dalam perutnya. Munir adalah salah satu aktivis HAM paling vokal di Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial. Namun, kasus kematian Munir masih misteri hingga kini. Kasus tersebut hanya mampu mengadili seorang pilot maskapai Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto yang divonis 14 tahun penjara. Namun banyak pihak yang meyakini, Polly bukan otak pembunuhan.

6. Tragedi Wamena

credit : suarapapua.com

Kita sering kali mendengar Indonesia dilaporkan melanggar HAM di Papua. Hal itu dipicu pada 4 April 2003 pukul 01.00 waktu Papua oleh sekelompok massa tak dikenal membobol gudang senjata Markas Kodim 1702/Wamena. Insiden tersebut menghilangkan nyawa dua anggota Kodim, yaitu Lettu TNI AD Napitupulu dan Prajurit Ruben Kana (penjaga gudang senjata). Kelompok penyerang diduga membawa lari sejumlah pucuk senjata dan amunisi. Aparat TNI-Polri melakukan pengejaran terhadap pelaku. Namun, dalam misi pengejaran itu, TNI-Polri diduga telah melakukan penyisiran, penangkapan, penyiksaan, perampasan secara paksa, sehingga menimbukan korban jiwa dan pengungsian penduduk secara paksa. Atas aksi tersebut, tercatat 42 orang meninggal dunia karena kelaparan, serta 15 orang jadi korban perampasan, pemaksaan penanda tanganan surat pernyataan, serta perusakan fasilitas umum. Proses hukum atas kasus tersebut hingga kini mampet. Terjadi tarik ulur antar Komnas HAM dan Kejaksaan Agung.

7. Kasus Penyiraman Air Keras Novel Baswedan

Kasus Penyiraman Air Keras Novel Baswedan
credit : finroll.com

Namanya masih hangat dibicarakan. Dia adalah Penyidik KPK yang sedang menangani kasus e-KTP menjadi korban penyiraman air keras usai salat subuh di masjid dekat rumahnya, pada April 2017 lalu. Meski aksi pelaku terekam CCTV, ICW menilai, kepolisian sangat lamban menanganinya. ICW juga mendesak Jokowi untuk membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Independen guna mempercepat penanganan kasus Novel. Tapi lagi-lagi masih abu-abu. Sehingga, pada 2019, Novel minta bantuan amnesti internasional untuk membawa kasus yang menimpanya ke lembaga PBB. Hal itu dilakukan karena kasusnya belum juga usai.

Dari sederet kasus yang delimun sebutkan tadi. Masih ada segudang kasus di Indonesia yang masih belum ditangani, perlakuan intimidasi masih sering terjadi, pelanggaran HAM juga tak mau ketinggalan.

Semoga saja, kasus-kasus tersebut bisa segera diatasi, dan hukum di Indonesia benar-benar ditegakkan untuk keadilan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.